Ayu Sri Wahyuni Pelajari Kisi-Kisi 2 Jam Per Hari

Kamis, 27 September 2018 | 22:46 WIB


Ayu Sri Wahyuni menerima piala lomba bahan ajar dari Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bali yang juga Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Dr I Gede Wenten Aryasuda MPd, 2016 lalu.

 

MEMPELAJARI kisi-kisi dan latihan mengerjakan soal secara rutin adalah kunci Ayu Sri Wahyuni meraih nilai tertinggi dalam uji coba (tryout) Uji Pengetahuan Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan 2018. Selain itu, Ayu juga mengikuti latihan mengerjakan soal di laman Spada.brightspace.com.

Uji coba dilaksanakan pada 22 September 2018 lalu. Ayu Bersama peserta lain kini masih mengikuti workshop yang berlangsung mulai 27 Agustus hingga 28 September 2018 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). “Setiap hari, minimal saya belajar dua jam setiap hari. Biasanya di sela jam kosong dan kalau sudah pulang ke asrama,” ujarnya, ketika dihubungi, Kamis (27/9/2018).

Ayu, kini 30 tahun, adalah alumnus Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Ganesha, Kota Denpasar, Bali. Ia mulai kuliah pada 2006 dan lulus 2010. Setelah lulus, ia langsung diminta untuk mengajar di SMP PGRI 2 Denpasar hingga sekarang. Profesi guru memang sudah sejak lama diidamkan oleh sulung dari dua bersaudara ini.

“Saya memang sejak sekolah ingin jadi guru karena saya kagum dengan sosok guru. Bagi saya, guru itu sebuah profesi yang sangat mulia. Penuh pengabdian,” ujar perempuan kelahiran Bali ini. Namun demikian, Ayu sebenarnya tak memiliki latar belakang guru. Orang tua Ayu adalah seorang petani yang sangat mendukung cita-citanya.

Ia memilih fisika sebagai jurusan yang dipilih di bangku perguruan tinggi karena menilai pelajaran tersebut sangat menantang. Sejak SMP, Ayu tekun belajar fisika dan kerap mengikuti lomba terkait dengan pelajaran tersebut. “Fisika itu pelajaran menantang dan mengajarkan berpikir kritis,” kata dia.

“Saya memang sejak sekolah ingin jadi guru karena saya kagum dengan sosok guru. Bagi saya, guru itu sebuah profesi yang sangat mulia. Penuh pengabdian.”

Kebiasaan mengikuti lomba pun terbawa hingga ia mengajar selama delapan tahun belakangan ini. Jiwa berkompetisi dan menjadi guru kreatif telah menjadi spirit sehari-hari. Terakhir, ia membuat video pembelajaran fisika yang inovatif untuk siswanya. Pada 2016, Ayu juara pada lomba guru berprestasi tingkat Kota Denpasar. Pada 2011 hingga 2018, Ayu juga berturut-turut meraih juara I lomba bahan ajar tingkat Kota Denpasar.

Terkait pendidikan dan peningkatan kualitas guru, Ayu berharap ke depan pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa itu. “Semoga kualitas guru di Indonesia lebih meningkat sehingga mampu mengantarkan anak-anak Indonesia menjadi generasi emas pada 2045,” harapnya.(Dhoni Zustiyantoro/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *