Hobi Fotografi pun Mendukung Pembelajaran

Jumat, 1 Maret 2019 | 7:19 WIB


BAGI Sigit Adhi Wibowo, fotografi tak sekadar hobi semata. Namun, berbagai hasil bidikan lensa kamera dapat ia gunakan untuk media pembelajaran bagi murid-murid yang ia ajar di SMP Takhasus+ Al Mardliyah, Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Ya, kegemaran memotret berbagai kegiatan terkait budaya, misalnya, membuat guru matapelajaran Bahasa Jawa ini dapat menggunakan momen itu untuk mengenalkan kepada murid terkait dengan kompetensi dasar yang mesti diajarkan kepada muridnya. “Misalnya, terkait dengan adat pernikahan dalam budaya Jawa atau wayang kulit, bisa saya gunakan untuk mendukung media pembelajaran,” ujar Sigit.

Sejumlah prestasi Sigit dalam bidang fotografi antara lain juara III Dynamic Religion of South Asia (2014), finalis May Bank Photo Contest di Kuala Lumpur (2013), dan juara II Canon Photo Marathon (2017). Sejumlah foto karyanya juga terjual pada skala internasional di sejumlah laman jual-beli karya fotografi.

Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang pada 2011 itu menempuh Program Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan pada 2018. Menurut pria kelahiran Blora, 14 April 1989 itu, PPG memberi manfaat luas.

“Terutama bagi lulusan yang sudah lama mengajar, PPG sangat bermanfaat untuk menyegarkan kembali berbagai metode dan media pembelajaran,pendalaman kurikulum, hingga mendapat pengetahuan baru. Sederhananya, mahasiswa PPG mengecas kembali energinya,” ujar pria yang tinggal Perum Tanjung Permai RT 1 RW 2, Krajankulon, Kaliwungu, Kendal, ini.

Selain itu, menurut Sigit, dalam mengikuti PPG guru diajak untuk inovatif dan adaptif terhadap perubahan dan kecanggihan teknologi informasi. Namun, ia memiliki kendala ketika mesti mengajar di pondok pesantren yang muridnya tidak diperbolehkan membawa perangkat telekomunikasi. Meski demikian, hal itu bukan halangan baginya.

“Pondok pesantren memiliki karakteristik pembelajaran yang unik, dan hal itu bukan alasan untuk tidak menjadi guru yang bisa mendidik dengan sepenuh hati,” ujar Sigit.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *