Ikhtiar Menyiapkan Guru Profesional

Rabu, 23 Januari 2019 | 9:40 WIB


Oleh Dhoni Zustiyantoro

PRESIDEN Joko Widodo dalam beberapa kesempatan menyatakan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 berfokus pada peningkatan sumber daya manusia lewat penguatan keahlian dan produktivitas. Kebijakan itu merupakan lanjutan dari program pembangunan insfrastruktur yang terus digenjot sejak awal kepemimpinannya pada 2014.

Telah sejak lama pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi isu sekaligus upaya yang tak pernah selesai. Semua pemimpin negara terus mengupayakannya untuk aset bangsanya ke depan. Fondasi yang menjadi tumpuan dari semua upaya tersebut adalah guru. Tanpa guru yang memiliki kompetensi memadai dan mau untuk terus belajar, mustahil pelbagai upaya yang dilakukan akan membuahkan hasil maksimal.

Ikhtiar untuk menyiapkan guru yang berkompeten tiada lain bermuara pada hasil akhir menghasilkan guru profesional, yakni guru yang lebih memilih “menyalakan lilin” ketimbang “mengutuk gelap”, guru yang tak henti untuk terus belajar, senantiasa inovatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Ya, demikian berat tugas guru. Namun, tanpa cita-cita ideal mewujudkan guru yang demikian, upaya mencetak generasi penerus bangsa mumpuni dan berdaya saing global tidak akan pernah bisa terwujud. Terlebih lagi, pada 2025—2045 Indonesia akan mengalami bonus demografi, yakni jumlah usia produktif dan angkatan kerja yang lebih besar ketimbang usia lanjut. Tanpa upaya terus menerus untuk menyiapkan generasi unggul, bangsa ini hanya akan menjadi penonton bagi perkembangan zaman yang semakin global.

Di sisi lain, dorongan untuk menjadikan guru profesional mesti berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diterima. Pemerintah tentu sudah menyiapkan skema ini. Mengutip media, alokasi anggaran pendidikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 mengalami kenaikkan dibandingkan 2018 lalu. Total kenaikan anggaran yang telah disejuti presiden Joko Widodo sebesar Rp48,4 riliun.

Berdasarkan keterangan yang dilansir di laman resmi Sekretariat Kabinet, Presiden Joko Widodo pada 29 November 2018 telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 129 Tahun 2018 tentang Rincian APBN 2019. Dalam lampiran Perpres tersebut tercatat anggaran pendidikan 2019 sebesar Rp492,555 triliun. Alokasi anggaran ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Dalam Perpres Nomor 107 Tahun 2017 tentang Rincian APBN 2018 alokasi sektor pendidikan sebesar Rp444,131 triliun. Artinya anggaran sektor pendidikan pada 2019 mengalami kenaikkan sebesar Rp48,4 triliun.

Tergantikan Teknologi?

Lantas, apakah era disrupsi dan Revolusi Industri 4.0 yang belakangan digaungkan—atau dikhawatirkan menjadi zaman baru, tak terkecuali bagi dunia pendidikan—bakal menggeser peran luhur guru? Apakah kecanggihan teknologi akan benar-benar bisa menggantikan peran mendidik yang selama ini diperankan oleh guru? Justru pada titik inilah proses mendidik menemukan tantangan tersendiri. Kita tak perlu buru-buru turut hanyut dalam teknologi yang kita ciptakan sendiri.

Menurut Longman Dictionary of Contemporary English versi dalam jaringan, mengajar adalah proses memperlihatkan bagaimana gagasan seseorang. Harmer (2002) menyatakan bahwa para humanis yang sentimen menciptakan hal yang dilematis dalam pikiran para guru dengan menyatakan: Apakah mengajar itu proses mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa atau mengondisikan siswa agar bisa belajar secara mandiri? Selanjutnya ia menyatakan bahwa proses belajar mengajar memberi penekanan pada learner-centered teaching. Dengan demikian, kebutuhan dan pengalaman siswa menjadi pusat kegiatan belajar mengajar, mewarnai kurikulum, dan menjadi jantung pengajaran. Selanjutnya, yang menjadi ukuran keberhasilan proses belajar adalah terjadinya aktivitas siswa, bukan hanya keaktifan guru di kelas. Dengan demikian, peran guru tetap nomor satu dalam mengarahkan para siswa.

Harmer juga memberi klasifikasi peran kepada guru dengan sangat beraneka dan multiguna. Menurutnya, guru adalahcontrollerorganizerassessor, prompter, participant, resource, tutor, dan observer. Sebagai controller,seorang guru harus berlaku sebagai pengontrol semua kegiatan belajar mengajar. Gurulah yang mengontrol siswa, keberhasilan, siswa, keberhasilan guru sendiri, dan keberhasilan program. Dia juga yang bertanggung jawab atas kelas dan segala aktivitas di dalamnya.

Hedge (2001) menggarisbawahi peran guru yang “multiguna” yang diklasifikasikan Harmer. Ia mengemukakan bahwa terdapat keseimbangan peran guru yang dikategorisasikan dalam empat hal, yaitu source of experiencemanagement rolessources of advice, and facilitator of learning. Dengan kata lain, ada keseimbangan peran guru sebagai narasumber berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, sebagai manajer, pemberi nasihat dalam memecahkan masalah, dan fasilitator dalam belajar.

Kita patut optimistis bahwa teknologi mampu memudahkan hampir semua bidang. Namun, memahami realitas bahwa proses mendidik membutuhkan aspek humanis—yang sejalan dengan filosofi dasar mendidik—setidaknya menjawab pertanyaan bahwa hal itu belum dapat terjangkau oleh alat atau apa pun di luar manusia. Namun, dalam konteks ini guru tak boleh berhenti untuk terus mengembangkan kompetensinya. Kecanggihan teknologi menjadi sarana mendorong ikhtiar tersebut. Lagi-lagi guru dituntut untuk akrab dengan perubahan dan ritme kerja yang dinamis.

Di satu sisi, kita mesti memahami kondisi pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal negeri ini. Di sana, realitas pendidikan masih jauh dari menggembirakan. Tidak hanya ihwal kekurangan guru secara kuantitas, tapi juga masalah ketidaksesuaian bidang ilmu dengan mata pelajaran yang diampu dan guru yang kurang mendapat pembaruan kompetensi sesuai perkembangan zaman. Lagi-lagi hal miris itu hanya bisa diatasi oleh sosok guru yang secara personal sudah siap menghadapi realitas di sekitarnya, yaitu guru yang, sekali lagi, lebih menyalakan lilin ketimbang mengutuk gelap.

Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) adalah upaya untuk menyiapkan guru yang tidak sekadar diakui dapat mengajar. Lebih dari itu, PPG adalah upaya untuk menyiapkan guru yang profesional, guru yang bekerja sesuai dengan muruahnya sebagai seorang pendidik yang humanis, menyiapkan generasi penerus yang kelak membawa bangsanya bergerak menuju arah yang berkemajuan.(*)

— Dhoni Zustiyantoro,pengajar pada Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes); editor laman ppg.ristekdikti.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *