Mahasiswa PPG Pasca-SM3T Melepas Lelah Usai Sembilan Bulan Belajar

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:29 WIB


UNESA, Surabaya–Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pasca Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan perjalanan ke Pulau Bali dalam rangka memenuhi kewajiban kurikulum PPG, yaitu General Education dan Wawasan Sains & Budaya, 11 – 14 Oktober 2018.

Sejumlah 191 mahasiswa dari 11 program studi mengikuti kegiatan tersebut dengan gembira. Pasalnya, bersamaan dengan program ini, berakhir pula segala kepenatan yang menyangkut workshop perangkat pembelajaran, PPL, tagihan mengajar, PTK, dan lainnya. Sungguh, sembilan bulan masa belajar itu berakhir dengan tawa lepas melihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Meskipun, setelah kemudahan pasti terbit ujian lagi.

Mahasiswa PPG UNESA yang memiliki nama “Ki Hajar Dewantara” yang selanjutnya disingkat KHD, mengusung tema “KHD VI Bali-kan” sebenarnya menyimpan beribu makna. Salah satunya adalah kerinduan dan inginnya balikan pada alam yang serba asri, alami, tenang tanpa macet, polusi dan keributan seperti kehidupan di penempatan SM3T dahulu, karena sejak menginjakkan kaki di Gedung W1 LP3M UNESA dan tinggal di Asrama Mahasiswa seakan kehidupan sudah berubah 1800. Yah, sesuatu yang sudah berlalu memang suka membuat rindu.

KHD VI bersiap berangkat dari LP3M UNESA pukul 13.00 selepas ibadah Dhuhur, menuju destinasi pertama, PT. Yakult Indonesia Persada di Mojokerto. Pada kunjungan kali ini, didampingi  Dosen Pamong Asrama, Bapak Husni Abdullah yang berangkat bersama-sama rombongan. Sambutan yang luar biasa hangat kami dapatkan dari Bapak Fery selaku Humas PT Yakult. Beliau menjelaskan secara detail pentingnya menjaga kesehatan organ tubuh, khusunya usus karena berperan penting dalam penyerapan sari-sari makanan. Belaiu juga mengajak seluruh mahasiswa (dibagi menjadi dua kloter) untuk melihat langsung proses pembuatan minuman Yakult. Namun sayang sekali, aktivitas yang berada di dalam pabrik tidak diperkenankan untuk diambil dokumentasinya. Acara tersebut diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dari PPG kepada pihak pabrik, dan sebaliknya. Semua mahasiswa mendapatkan sebuah blocknote dengan pesan penting di sampulnya, “Cintai ususmu, minumYakult tiap hari”. (Hayo..ngaku yang bacanya sambil nyanyi, hehe)

Perjalanan berlanjut ke Pulau Bali. Destinasi pertama adalah di Resto sekitar Tanah Lot, untuk menikmati sarapan dan segarnya air mandi. Selanjutnya menuju Pantai Tanah Lot. Setelah melewati jalan yang kanan kiri memamerkan pernak-pernik khas Bali, suara debur ombak yang telah kita dindukan berbulan lamanya akhirnya terdengar juga. Birunya air laut dipadu cerahnya langit, membuat siapa saja betah berlama-lama disana, kecuali pasangan kekasih. Konon katanya, mitos yang beredar, barangsiapa yang memiliki kekasih dan berlibur di pantai Tanah Lot bersama, niscaya hubungan mereka pasti akan kandas.

Destinasi selanjutnya masih bertema pantai, yaitu Pantai Pandhawa atau disebut juga secret beach. Disebut demikian karena letaknya memang di balik tebing yang sekarang akses menuju wisata sudah banyak berbenah. Pada bagian sisi tebing sebelah kiri (perjalanan berangkat) akan terihat patung-patung Keluarga Besar Pandhawa yang sengaja ditempatkan disana, sebagai filosofi pemberian nama Pantai Pandhawa, yaitu potongan kisah yang diambil dari Kitab Mahabarata saat kelima Pandhawa ini dikurung dalam Goa Gala-gala. Kelima Pandhawa berhasil selamat setelah mereka membuat sebuah terowongan yang berujung ke sebuah hutan belantara dan didirikannya lah Kerajaan Amarta. Cerita itulan yang menjadi inspirasi masyarakat sekitar, bahwa keberadaan Pantai Pandawa yang dulunya tersembunyi di balik tebing, hingga akhirnya dibuatkan akses yang mudah sehingga memberikan manfaat seolah menjadi kerajaan baru bagi warga sekitar. Setelah puas dengan vitamin-sea, rombongan menuju hotel untuk mengisi ulang tenaga, mempersiapkan perjalanan di keesokan hari.

Hari terakhir di Pulau Dewata. Berkunjunglah rombongan ke Monumen Bajra Sandhi yang meruakan monumen perjuangan rakyat Bali untuk memberi hormat para pahlawan serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Hal ini karena semua bagiannya memiliki filosofi, yaitu 17 anak tangga di pintu utama, 8 tiang agung di dalam gedung monumen yang tingginya 45 m. Masa lalu memang berhak dihargai, dikenang bahkan dibuatkan monumen, tapi jangan kalau untuk mantan. Duh..

Kata-kata “Sampai Jumpa Bali”, terucap dari Pura Ulundanu, Bedugul. Udara yang benar-benar segar serta menyambut dan membersamai perjalanan mengitari danau, pura lima puluh ribu, taman indah berumput hijau. Pesona tempat wisata ini memang terbaik, spot ber-swafoto atau beramai-ramai tersuguhkan sempurna. Setiap sudutnya menampakkan keindahan. Atau mungkin karena keindahanya, menjadikan ide untuk mengabadikannya dalam uang pecahan lima puluh ribu. Sehingga, alangkah indahnya dompet, jika di dalamnya berjajar banyak sekali pecahan warna biru. Hehe.

“Alhamdulillah, kegiatan yang didambakan teman-teman dari awal PPG sebagai kegiatan keakraban sekaligus refreshing dari perkuliahan PPG dapat terlaksana dengan baik. Baru pertama dan mungkin satu-satunya kegiatan yang diikuti seluruh peserta yang berasal dari Sabang-Merauke. Semua kekhawatiran tinggal menjadi kenangan. Yang penting semua senang, bahagia dan minimal unggah status WA/IG tentang Bali-kan sudah cukup menunjukkan bahwa kegiatan ini sukses”, ungkap Tomy, selaku koordinator kegiatan GE.

Puji syukur, akhirnya rombongan kembali dengan selamat di Suabaya, pada hari Minggu, 14 Oktober 2018 pukul 06.30 WIB. Sampai jumpa Bali, selamat datang UTL, UKIN, dan UP. Semoga se-menyenangkan Bali-kan. (Zulfatul Khoirina – PPG Pasca SM-3T UNESA)

Sumber : http://lp3m.unesa.ac.id/2018/10/18/mahasiswa-ppg-pasca-sm3t-unesa-bali-kan/

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *