Peran Sekolah Memperkuat Bahasa Ibu

Minggu, 24 Februari 2019 | 17:15 WIB


TANGGAL21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Bahasa Ibu Internasional bermula dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh, yang kemudian diakui oleh UNESCO pada 21 Februari 1999. Meskipun sudah dua puluh tahun diakui oleh dunia internasional, namun keberadaan bahasa ibu sendiri kurang diperhatikan, tidak terkecuali di Indonesia yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Namun, dewasa ini kian banyak orang yang merasa kehilangan terhadap bahasa ibu yang dimilikinya. Bukan karena bahasa ibu tersebut sudah jarang digunakan olehnya dan masyarakat di sekitarnya, melainkan kebingungan terhadap bahasa ibu yang dimilikinya sendiri.

Pada umumnya, masyarakat luas mengenal bahwa bahasa ibu adalah bahasa daerah atau bahasa yang kebanyakan digunakan oleh masyarakat di sekitar kehidupannya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang sejak kecil diajarkan oleh orang tuanya dengan bahasa asing? Misalnya, orang Jawa yang tinggal di perkotaan cenderung lebih sering memilih mengajarkan bahasa nasional atau bahasa asing kepada anaknya daripada bahasa daerah yang dimiliki oleh orang tuanya. Di sinilah letak kebingungan masyarakat terhadap bahasa ibu yang dimilikinya.

Untuk menjaga kelestarian bahasa ibu, masyarakat dapat menggunakan bahasa ibunya di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan sekolah. Dari ketiga tempat tersebut, lingkungan sekolah menjadi tempat yang paling efektif sebagai upaya penguatan kembali bahasa ibu yang dimiliki. Di sekolah, para siswa setiap hari melakukan komunikasi dengan sesama teman atau dengan guru menggunakan bahasa daerah. Di sekolah pula, bahasa daerah diajarkan.

Berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang intinya memberi keleluasaan daerah untuk lebih memperhatikan potensi daerahnya masing-masing, menjadikan keberadaan pembelajaran bahasa daerah di sekolah semakin kuat. Terlebih lagi, setiap kepala daerah mengeluarkan peraturan gubernur yang mengatur tentang pembelajaran bahasa daerah wajib diajarkan sebagai muatan lokal wajib di setiap jenjang pendidikan. Di Jawa Tengah, misalnya, dengan lahirnya Pergub Nomor 57 Tahun 2013, sekolah wajib mengajarkan bahasa daerah sebagai muatan lokal yang berdiri sendiri. Tidak hanya di Jawa Tengah, di daerah lain seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, dan lain sebagainya juga telah mengeluarkan pergub serupa.

Bahasa Ibu di Sekolah

Lantas, bagaimana pelaksanaan pembelajaran bahasa daerah di sekolah? Meskipun tidak menjadi mata pelajaran wajib yang dikeluarkan oleh Mendikbud, atau bahkan bahasa daerah tidak diujikan melalui ujian sekolah berstandar nasional (USBN), namun keberadaan pembelajaran bahasa daerah tidak dapat dianggap remeh. Melalui pembelajaran bahasa daerah tersebut, siswa dapat kembali mempelajari kearifan budaya lokal seperti belajar sopan santun, unggah-ungguh dan lain sebagainya. Seyogianya, sekolah tidak hanya sekadar menjadi tempat belajar bahasa daerah di kelas. Bahasa daerah akan semakin lestari jika digunakan di luar pembelajaran di kelas. Misalnya, dengan menerapkan kebijakan penggunaan bahasa daerah satu hari dalam seminggu. Hal ini tentu akan menjadikan siswa lebih giat dan gemar menggunakan bahasa daerah yang dimiliki.

Sebenarnya, di Jawa Tengah kebijakan tersebut sudah dibuatkan peraturan, yaitu Peraturan Gubernur Jawa Tengah (Pergub Jateng) Nomor 55 Tahun 2014 yang mewajibkan penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan kerja instansi Pemprov Jateng, Pemkab/Pemkot serta instansi lain baik situasi resmi maupun nonformal. Namun, kebanyakan sekolah belum menerapkan kebijakan tersebut. Sekolah lebih cenderung memilih sistem pembelajaran bilingual dengan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Seiring perkembangan zaman, tidak dapat dimungkiri tuntutan dunia global menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Mampu berbahasa asing menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Tidak heran jika sekolah-sekolah sekarang banyak yang menjadikan sistem pembelajaran bilingual atau multilingual sebagai program unggulan. Pembelajaran sistem bilingual di sekolah sebenarnya sangat tepat digunakan sebagai bekal kemampuan bahasa yang dimiliki oleh siswa. Namun, tentunya tidak harus meninggalkan keberadaan bahasa daerah yang menjadi lambang kebanggaan, identitas, dan sarana pendukung kebudayaan daerah.

Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Jawa Tengah yang merupakan sekolah khusus berasrama milik Pemprov Jateng, pembelajaran multilingual sudah diterapkan sejak tiga tahun sekolah tersebut berdiri. Pada hari Senin-Selasa siswa wajib menggunakan bahasa Indonesia, pada hari Rabu-Kamis siswa wajib menggunakan bahasa Jawa, dan di hari Jumat-Sabtu siswa wajib menggunakan bahasa Inggris. Tidak hanya siswa, namun seluruh warga sekolah wajib menggunakan bahasa sesuai aturan dalam kegiatan bertegur sapa, mengawali dan menutup pembelajaran di kelas, laporan siswa sebelum dan sesudah pembelajaran, atau kegiatan komunikasi sehari-hari. Dengan adanya kebijakan tersebut, penguasaan bahasa yang dimiliki siswa baik bahasa nasional, bahasa daerah dan bahasa asing dapat sama-sama terasah dengan seimbang.

Bahasa ibu akan lestari jika bahasa ibu tersebut digunakan, bukan diperingati. Untuk itu, memperingati bahasa ibu saja tidak cukup. Mari kita kembali melakukan gerakan penggunaan bahasa ibu dengan tidak mengesampingkan bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu bangsa  dan bahasa asing sebagai sarana komunikasi internasional.(*)

—Heri Purnomo, S.Pd.guru SMK Negeri Jawa Tengah, Jalan Brotojoyo Nomor 1, Semarang

Kirimkan Tulisan Anda

Kirimkan tulisan Anda berisi gagasan dan opini mengenai Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) maupun masukan yang solutif terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Panjang tulisan antara 5.500—7.500 karakter termasuk spasi. Sertakan data diri dan foto pose santai. Kirimkan tulisan ke surel: gagasan.ppg@gmail.com. Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *