Masuki Era Revolusi Industri 4.0, Tantangan Guru Makin Kompleks

Senin, 31 Desember 2018 | 17:01 WIB


Serangkaian kegiatan Pembekalan Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), 19 Desember 2018, diakhiri dengan menjawab pertanyaan besar: “Apa dan bagaimana peluang dan tantangan guru di masa mendatang, yaitu era Revolusi Industri 4.0?”

Guru Indonesia diharapkan bisa berkembang di kawasan ASEAN, tidak hanya di Indonesia, dan peluangnya terbuka lebar karena sudah memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Selain menguasai teknologi, guru juga harus bisa menjelaskan bagaimana cara mengaplikasikannya.

Tantangan tersebut menjadi uraian Pemakalah I, yaitu Prof. Intan Ahmad, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung pada Seminar Nasional PPG yang diselenggarakan Pusat Sertifikasi dan Pendidikan Profesi-LP3M UNJ. Lebih dari 420 peserta yang terdiri atas Wakil Rektor, Dekan, Dosen, Staf UPT dan Mahasiswa PPG SM3T Angkatan VI dan Prajabatan Bersubsidi Gelombang II menghadiri seminar yang digelar di Aula Latief Gedung Dewi Sartika UNJ.

Prof Intan menjelaskan bahwa adanya kemajuan artificial intelligence seperti kemunculan robot membuat generasi profesional muda harus bisa bahasa program dan pengolahan data. “Jika menguasai data, maka bisa menguasai dunia,” tegasnya. Bonus demografi di Indonesia sebaiknya diisi dengan kualitas pendidikan yang baik pula karena apa pun yang diajarkan guru di kelas akan berdampak pada siswanya.

“Masalah pendidikan sekarang tidak bisa diselesaikan dengan cara zaman dulu, sehingga berbicaralah di depan kelas sesuai relevansi kondisi saat ini,” kata Prof Intan. Ia menuturkan, kurikulum pendidikan tidak perlu diubah, tetapi hanya menyesuaikan dengan kejadian yang relevan. Dinamika kurikulum di Indonesia dibahas oleh Pemakalah II yaitu Prof. Syawal Gultom, M.Pd. dari Universitas Negeri Medan pada seminar tersebut.

“Indonesia sudah ganti kurikulum sebanyak 10 kali, tetapi di balik perubahan-perubahan itu yang terjadi justru fenomena ‘guru lebih tapi kurang’. Karena yang terjadi saat ini adalah masalah klasik, yaitu mismatch. Perlu adanya revitalisasi LPTK dan perbaikan standar yang terkait kompetensi kepribadian,” jelas Prof. Syawal.

Menurutnya, kunci hidup pada masa depan adalah menguasai IT dan penguasaan bahasa Inggris. Bekal ilmu yang diperoleh peserta sebagai profesional muda setelah mengikuti seminar ini bisa digunakan untuk siap menghadapi tantangan-tantangan itu. “Jangan khawatir dengan hebatnya robot di Era Revolusi Industri 4.0, karena robot diciptakan oleh manusia yang sebenarnya bisa diatur oleh manusia itu sendiri,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *